LANDASAN TEORI

ABORTUS INCOMPLETE

I.            PENGERTIAN

Abortus adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup diluar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gram atau umur kehamilan kurang dari 28 minggu.

(Manuaba, 1998 : 214)

Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin hidup diluar kandungan.

(Rustam Mochtar,1998 : 209)

Abortus adalah pengakhiran k.ehamilan sebelum mencapai berat 500 gram atau kurangdari 20 minggu.

( UNPAD,1998 : 4 )

Abortus istilah yang  diberikan untuk semua kehamilan yang  berakhir sebelum periode viabilitas janin, yaitu yang berakhir sebelum janin 500 gram. Bila berat badan tidak diketahui, maka perkiraan lama kehamilan kurang dari 20 minggu lengkap ( 139 hari ) dihitung dari hari pertama terakhir normal yang dapat dipakai

( Ben – Zion Taber, 1994 : 54 )

  1. Jenis – jenis abortus
  2. Abortus iminen

Adalah abortus yang mengancam dan akan terjadi. Dalam hal ini keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obat – obatan dan istirahat

  1. Abortus incomplet / keguguran tidak lengkap

Adalah sebagian dari buah kehamilan dapat dilahirkan tapi dilahirkan sebagian ( biasanya teraba jaringan plasenta ) tertinggal dalam rahim

  1. Abortus insipien / keguguran berlangsung

Adalah abortus ini sudah berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi

  1. Abortus complete / keguguran lengkap

Adalah seluruh buah kehamilan telah dilahirkan dengan lengkap

  1. Missed abortion

Adalah keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke 22 tetapi tertahan di dalam rahim selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati

III.      PENYEBAB ABORTUS

Penyebab abortus sebagian besar tidak diketahui secara pasti,tetapi terdapat factor yaitu :

  • Faktor Pertumbuhan Hasil Konsebpsi

Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin           dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan.Ini dapat terjadi karena :

  1. Faktor Kromosom
  2. Faktor Lingkungan Endometrium
  • Endometrium belum siap menerima implantasi
  • Gizi ibu kurang karena anemia
  1. Pengaruh Luar

Obat – obatan dan radiasi

  • Kelainan Pada Placenta

–          Infeksi pada placenta

–          Gangguan pembuluh darah

  • Penyakit Ibu

–          Penyakit Infeksi seperti : Malaria,Sifilis,dan sebagainya.

–          Anemia

–          Penyakit menahun seperti : Hipertensi,ginjal,hati,dan sebagainya.

  • Kelainan Yang Terdapat Dalam Rahim

Seperti : Mioma Uteri,Uterus Arkuatus,Uterus Septus,Bekas Operasi,pada serviks dan sebagainya.

IV.      PATOFISIOLOGI ABORTUS

Terjadi keguguran mulai terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan placenta yang menyebabkan perdarahan sehingga bayi kekurangan nutrisi dan O2.Karena dianggap asing,sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkannya dengan kontraksi.Keguguran memberikan gejala umum dan sakit perut karena kontraksi rahim,terjadi perdarahan dan disertai dengan pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi.

Bentuk Pengeluaran Hasil Konsepsi Bervariasi

  • Umur kehamilan < 14 minggu dimana placenta belum terbentuk sempurna langsung terjadi pengeluaran hasil konsepsi seluruhnya.
  • Diatas 16 minggu dengan bentuk placenta sempurna,didahului dengan ketuban pecah kemudian pengeluaran hasil konsepsi dan pengeluaran placenta.
  • Hasil konsepsi tidak dikeluarkan >16 minggu,menimbulkan ancaman baru dalam bentuk gangguan pembekuan darah.

V.      DASAR DIAGNOSA ABORTUS

Dugaan abortus diperlukan beberapa kriteria,yaitu :

  • Terdapat keterlambatan datang bulan
  • Terjadi perdarahan disertai sakit perut
  • Dapat diikuti oleh pengeluaran hasil konsepsi
  • Pemeriksaan hasil test kehamilan bisa + /-

Hasil pemeriksaan fisik bervariasi pada tiap penderita,yaitu :

  1. Pemeriksaan fisik bervariasi tergantung dari jumlah perdarahan
  2. Pemeriksaan fundus uteri
  • Tinggi dan besarnya tetap dan sesuai dengan usia kehamilan
  • Tinggi dan besarnya sudah mengecil
  • Fundus uteri tidak teraba diatas symphisis
  1. Pemeriksaan Dalam
  • Serviks uteri masih tertutup
  • Serviks sudah terbuka dan dapat teraba ketuban dan hasil konsepsi dalam kavum uteri atau pada kanalis servikalis.
  • Besarnya rahim dan (uterus) telah mengecil
  • Konsepsi lunak

Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat ditetapkan diagnosa klinik pada abortus Inkomplete.

Gejala klinis yang dapat terjadi :

  • Perdarahan memanjang,sampai terjadi keadaan anemis
  • Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat
  • Terjadi infeksi dengan ditandai suhu tinggi
  • Dapat terjadi degenerasi ganas (Korio Karsinoma)

Pada pemeriksaan dijumpai gambaran

  • Kanalis servikalis terbuka
  • Dapat diraba jaringan dalam rahim atau di kanalis servikalis
  • Kanalis servikalis tertutup dan perdarahan berlangsung terus
  • Dengan pemeriksaan sonde perdarahan bertambah

VI.      THERAPY

  1. Bila ada tanda – tanda shock atasi dulu dengan pemberian cairan dan tranfusi darah
  2. Keluarkan jaringan secepatnya mungkin dengan metode digital atau curetage
  3. Setelah itu beri obat uterotonika dan antibiotika
  4. Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang dari 16 minggu evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil komnsepsi yang keluar melalui servik. Jika perdarahan berhenti beri ergometrin 0,2 mg IM  atau misoprostol 400 mcg per oral
  5. Jika perdarahan banyak atau tereus berlangsung dan usia kehamilan kurang dari 16 minggu, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan :

–    Aspirasi vakum Manual ( AVM ) merupakan metode evakuasi yang terpilih. Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia

–    Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2 mg IM ( diulangi setelah 4 jam jika perlu )

  1. Jika kehamilan lebih dari 16 minggu

–    Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan IV ( garam fisiologi atau ringer laktat ) dengan kecepatan 40 tetes / menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi

–    Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setelah 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi ( maksimal 800 mcg )

–    Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus

  1. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan
  1. PEMANTAUAN PASCA ABORTUS

Sebelum ibu diperbolehkan pulang, beritahu ibu bahwa abortus merupakan hal yang biasa terjadi pada paling sedikuit 15%  ( satu dari tujuh kehamilan ) dari seluruh kehamilan yang diketahui secara klinis. Berilah keyakinan akan kemungkinan keberhasilan berikut kecuali jika terdapat sepsis atau adanya penyebab abortus yang dapat mempunyai efek samping pada kehamilan berikutnya ( hal ini jarang terjadi )

Beberpa wanita mungkin ingin hamil langsung setelah abortus inkomplit. Ibu sebaiknya diminta untuk menunda kehamilan berikut sampai benar benar pulih. Untuk ibu dengan riwayat abortus tidak aman, konseling merupakan hal yang penting. Jika kehamilan tersebut merupakan kehamilan yang tidak diinginkan, bebrapa metode kontrasepsi dapat segera dimulai ( dalam waktu 7 hari ) dengan syarat :

–          Tidak terdapat komplikasi berat yang membutuhkan penangan lebih lanjut.

–          Ibu menerima konseling dan bantuan secukupnya dalam memilih metode kontrasepsi yang paling sesuai

Kontrasepsi pasca abortus

–          Kondom : waktu aplikasi → segera

–          Pil hormonal : waktu aplikasi → segera

–          Suntikan : waktu aplikasi → segera

–          AKDR : waktu aplikasi → segera atau setelah kondisi pasien pulih kembali

–          Tubektomi : waktu aplikasi → segera

Juga kenali pelayanan kesehatanreproduksi lainnya yang dibutuhkan oleh ibu tersebut sebagai contoh beberapa wanita mungkin membeutuhkan :

–          Jika pasien pernah diimunisasi, berikan booster tetanus teksoid 0,5 ml. Jika dinding vagina atau kanalis servikalis tampak luka terkontaminasi

–          Jika riwayat imunisasi tidak jelas, berikan serum anti tetanus ( ATS ) 1500 unit Im diikuti dengan tetanus Toksoid 1,5 ml setelah 4 minggu

–          Penatalaksanaan untuk penyakit menular seksual

–          Penapisan kanker serviks

Fokus intervensi
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan abortus ;
1. Resiko tinggi terjadi syok berhubungan dengan perdarahan abnormal.
Tujuan : tidak terjadi syok
Kriteria hasil:
a. TTV normal
b. Ekstremitas hangat
Intervensi Keperawatan :
Terlampir di rental Hikari.

2. Perubahan kenyamanan (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan intra uterin
Tujuan : Nyeri hilang / berkurang
Kriteria hasil :
Terlampir di rental Hikari.
Intervensi:
a. Tentukan riwayat nyeri : lokasi, frekuensi, durasi, intensitas dan tindakan penghilang yang digunakan (PQRST)
b. Berikan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, gosok punggung, aktifitas hiburan, musik, tertawa dll)
c. Evaluasi penghilangan nyeri ;
d. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi

3. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prosedur pengobatan dan penatalaksanaannya.
Tujuan : Cemas hilang / berkurang
Kriteria hasil:
a. Klien mengatakan cemas hilang / berkurang.
b. Klien mengetahui tentang penyakitnya, penyebab, tanda dan gejala, perjalanan penyakit dan tindakan perawatan yang dilakukan.
Intervensi:
a. Kaji tingkat kecemasan klien
b. Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
c. Berikan informasi tentang penyebab, tanda, gejala, perjalanan penyakit dan tindakan pengobatan yang dilakukan
d. Berikan informasi tentang pengobatan yang dijalani.
e. Berikan informasi yang adekuat tentang keadaan klien
f. Anjurkan keluarga untuk memberikan motivasi pada klien

4. Gangguan pemenuhan kebutuhan perawatan diri berhubungan adanya jadwal adanya tindakan (tetap bedrest selama 3 hari setelah perdarahan berhenti).
Tujuan : klien memenuhi perawatan diri secara mandiri
Kriteria hasil:
a. Klien menunjukkan peningkatan kebutuhan perawatan diri
b. ADL tanpa bantuan
Intervensi Keperawatan:
a. Kaji respon individu terhadap aktifltas.
b. Ukur nadi, tekanan darah, pernafasan, perdarahan, kontraksi uterus.
c. Kaji aktifitas maksimal individu dalam memenuhi kebutuhannya.
d. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan perawatan sehari-harinya.
e. Tingkatkan aktifitas secara bertahap.

5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan imunitas tubuh Tujuan ; Tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil:
a. Tidak ada tanda – tanda infeksi
b. TTV dalam batas normal
c. Hasil laboratorium dalam batas normal: lekosit
Intervensi:
a. Tekankan pada pentingnya hygiene personal.
b. Pantau TTV
c. Berikan perawatan dengan prinsip aseptic
d. Tempatkan klien pada lingkungan yang terhindar dari infeksi
e. Kolaborasi pemeriksaan : kultur
f. Kolaborasi pemberian antibiotic
g. Kolaborasi pemeriksaan laboratorium : lekosit

DAFTAR PUSTAKA

FK UPB.1984. Obstetri Patologi. Bandung ; Elstor  offset

Manuaba, Ida Bagus Gde.1998. Ilmu KebidananPenyakit kandungan Tujuan untuk keluarga berencana. Jakarta ; EGC

Mochtar,Rustam.1994. Kapita Selekta Kedaduratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta ; EGC

YBP.SP.2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Ksehatan Maternal Neonatal. Jakarata; YBP.SP